Penerapan Aplikasi Etik Penelitian Kesehatan melalui Pelatihan Etik Penelitian Dasar dan Lanjutan

Workshop etik dasar dan lanjutan merupakan pelatihan mengenai etik penelitian dan teknologi penggunaan sistem manajemen informasi etik penelitian kesehatan. Acara ini diselenggarakan oleh Unit Publikasi Ilmiah, 14-16 Februari 2019 bertempat di Harris Hotel & Convention. Sebanyak 85 peserta mengikuti pelatihan ini yang berasal dari Palu, Jember, Sumatra Utara, Kalimantan dengan latar belakang pendidikan kesehatan yang berbeda. Harapannya workshop ini sebagai wahana pendidikan berkelanjutan yang efektif untuk memperbarui pengetahuan, pengetahuan sikap, penguatan sikap, dan keterampilan etik penelitian, sehingga diharapkan outputnya dapat meningkatkan kualitas penelitian pada subjek manusia dan hewan, selain itu dapat melindungi hak-hak mereka selama menjadi subjek penelitian. Manfaatnya dapat memberikan hal yang baik dalam pelaksanaan pendidikan dan penelitian untuk dosen sebagai pendidik dan peneliti juga para peserta di bidang kesehatan lainnya diharapkan dapat melindungi hak pasien di rumah sakit yang menjadi subjek penelitian. Pelatihan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas aspek etik penelitian di bidang kesehatan, kemampuan dalam bidang penelitian, uji klinik, penelitian epidemologi, aspek etik uji klinik, penelitian social, budaya, hukum dan ekonomi. Serta mampu meningkatkan penelitian psikologi, dan penelitian pada korban bencana.

Penelitian kesehatan merupakan hal rutin yang biasa dilakukan oleh insan akademik sebagai salah satu bentuk tridarma perguruan tinggi. Yang merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan sesama akademisi di perguruan tinggi, terbukti dengan peserta dari berbagai bidang kesehatan selain kedokteran gigi. Kegiatan pelatihan etik dasar dan lanjutan yang dilaksanakan oleh unit publikasi ilmiah dapat dijadikan sebagai dasar bagi peneliti untuk dapat melakukan kegiatan penelitian kesehatan dan memperhatikan keselamatan serta memberikan perlindungan kepada subjek penelitian. Selain itu juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar etik penelitian kesehatan, pengenalan SOP nya bagaimana, dan prosedur persetujuan etik. Tak ketinggalan berbagai macam etik dan penelitian kesehatan serta tanggung jawab dan integritas peneliti juga perlu untuk dibahas. Dengan berjalannya keilmuan, tidak dapat sembarangan meneliti tanpa adanya persetujuan dari komite etik.

Pelatihan ini mengundang Ketua KEPPKN sebagai narasumber yakni dr. Triono Soendoro, M.Sc., M.Phil.,Ph.D dan Drs. Sawidjan Gunadi, M.Kes dari Tim SIM-EPK. Beberapa materi yang disampaikan diantaranya mengenai Etika Penelitian Kesehatan; Aplikasi Etika dalam Penelitian Kesehatan; Telaah kelaikan usulan penelitian; Pelanggaran, integritas dan tanggung jawab peneliti; dan Case Study. Sedangkan untuk materi yang disampaikan pada workshop adalah 90% kasus. Kasus yang disampaikan diantaranya postfactum dan prefactum penelitian.

Sekilas mengenai KEPPKN, komite tersebut sudah ada sejak 2002, sebelumnya bernama Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan (KNEPK) sampai dengan 2016 berganti nama menjadi KEPPKN, merujuk pada Undang-Undang Kesehatan tahun 1992 dan PP No. 39 tahun 1995. Workshop ini merupakan angkatan 144 dalam gelarannya yang diadakan di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia sejak tahun 2016.

Dalam sambutannya, Ketua KEPPKN menjelaskan bahwa dalam Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit, rumah sakit harus mempunyai komite etik penelitian kesehatan yang merupakan bagian dari Komite Akreditasi Rumah Sakit. Pada maret mendatang direktur rumah sakit akan diberikan sosialisasi tentang pentingnya komite etik penelitian di rumah sakit. Mayoritas pelanggaran etik terjadi bukan pada saat etik disetujui, tapi terjadi pada saat pelaksanaan penelitian. Kemudian ketika diajukan ke jurnal, ditolak oleh jurnal karena terdapat pelanggaran etik, sehingga tidak menjadi jaminan bahwa komisi etik yang sudah menyetujui bisa diterima di jurnal yang sudah terakreditasi. Pada awalnya LAM PT KES hanya menyetujui penelitian yang telah disetujui dari komite etik dimanapun. Kemudian sekarang diubah menjadi setiap lembaga pendidikan harus mempunyai komite etik. Selain itu dalam pelatihan ini diajarkan bagaimana mendaftarkan KEPK via online. Setelah didaftarkan kemudian bagaimana proses telaah protokol dilakukan, karena proses tersebut merupakan justifikasi untuk kelaikan etik atau tidak. Dari KEPPKN semua protocol di Indonesia berstandar global merujuk pada standar WHO 2011. Semoga dengan adanya pelatihan ini akan lahir penelitian-penelitian yang ramah terhadap manusia, hewan dan tumbuhan.

Managemen Background

@Copyright 2016 FKG Unpad