Talkshow “Studying Abroad with Scholarships” (Gotrasawala 2020)

Sabtu, 12 September 2020, International Unit FKG Unpad yang bekerja sama dengan Penerbit Buku Kedokteran EGC mengadakan talkshow dengan judul “Studying Aboard with Scholarship” yang mengundang empat orang narasumber. Keempat narasumber ini merupakan staff pengajar aktif di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, yaitu drg. Arief Cahyanto, MT, PhD (staff pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Material Kedokteran Gigi), drg. R. Tantry Maulina, MKes., PhD (staff pengajar di Departemen Bedah Mulut), Dr. Amaliya, drg., MSc. (staff pengajar di Departemen Periodonsia), dan Dewi Zakiawati, drg., MSc (staff pengajar di Departemen Ilmu Penyakit Mulut). Keempat staf pengajar ini merupakan penerima beasiswa studi S2 dan S3 di luar negeri pada peminatannya masing-masing.

Masing-masing staff pengajar tersebut mengalami proses yang berbeda dalam penerimaan beasiswa, dikarenakan lembaga pemberi beasiswa dan universitas yang dituju pun berbeda. drg Arief, yang mendapatkan beasiswa khusus dosen dari DIKTI menceritakan kisahnya berawal saat beliau sedang melanjutkan studi S2 tentang material di Institut Teknologi Bandung. Disana beliau merasa peluang dan relasi untuk melanjutkan studinya berkembang luas. Setelah mendapatkan rekomendasi, mempertimbangkan, dan menghubungi profesor di sekolah tujuan, beliau menjatuhkan pilihan untuk mengambil program doktoral mengenai material di Kyushu Univesity. Lain halnya dengan drg. Zakia, dosen di departemen Ilmu Penyakit Mulut yang sedang menempuh residensi di bidang Penyakit Mulut ini mengatakan bahwa beliau tidak terpikirkan sama sekali bahwa akan melanjutkan pendidikan ke Scotland, tetapi beliau mendapatkan dukungan dari Prof. Sunardhi selaku dosennya saat sedang berkuliah, maka drg. Zakia memantapkan hatinya untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Ketika beliau sudah berada di Scotland, beliau tidak merasakan adanya penyesalan karena dapat belajar banyak hal baru. Selanjutnya, drg Tantry menceritakan pengalaman menariknya selama melanjutkan studi di negara kangguru. Beliau mengaku sempat terkejut dengan perbedaan kultur di kampusnya jika dibandingkan dengan Indonesia. Di Australia, beliau merasa lingkungannya lebih terasa santai, tetapi tetap bersungguh-sungguh dalam belajar. Beliau juga merasa tidak ada batasan dalam cara memanggil dosen dan teman-temannya, satu hal yang tidak dirasakan ketika bersekolah di Indonesia. Sama halnya dengan drg. Tantry, drg. Amaliya juga merasakan kultur yang berbeda ketika melanjutkan studi di Belanda. Belanda merupakan negara yang multikultural, sehingga semua terasa baru baginya. drg. Amaliya juga menceritakan bahwa usaha beliau dalam mendapatkan beasiswa tidak selalu berjalan mulus karena sempat merasakan gagal namun hal itu tentu saja tidak menyurutkan semangatnya.

Pemerintah Indonesia hanya mewajibkan warganya untuk wajib bersekolah 9 tahun, namun tidak ada salahnya bagi kita untuk melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Keempat narasumber pada talkshow ini setuju bahwa dengan bersekolah setinggi mungkin, dapat mengembangkan karakter individu, bagaimana cara dia menyelesaikan masalah serta mengubah responnya terhadap tantangan dan kritikan yang diberikan. Selain itu, dengan bersekolah setinggi mungkin akan merubah cara berpikir dan kebiasaan seseorang, terlepas nantinya ilmu tersebut akan digunakan untuk menjalankan tugas sebagai praktisi, dosen, atau peneliti. Ilmu di bidang kedokteran gigi itu dinamis dan selalu berubah, sehingga sudah sepantasnya bagi setiap individu untuk memiliki rasa ingin tahu dan keinginan meningkatkan kemampuannya. Selain itu, dengan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, apalagi jika sampai bersekolah di luar negeri, akan membuka cakrawala seseorang, karena dapat keluar dari zona nyaman dan belajar untuk adaptasi terhadap lingkungan yang baru.

Dalam memilih peminatan dan universitas yang dituju, keempat narasumber sama-sama mendahuluinya dengan mencari tahu tentang universitas mana yang sekiranya merupakan kampus terbaik dalam peminatan mereka. Hal ini bukan merupakan yang sulit, karena kita dapat mencari ranking universitas dunia lewat internet, lalu mencari staff pengajar yang dinilai ahli dalam bidang yang diminati, bisa dilihat dari banyaknya artikel atau jurnal yang diterbitkan setiap tahunnya. Setelah mendapatkan kontak dari staff pengajar tersebut, para narasumber menghubunginya dan melakukan korespondensi untuk mendapatkan unconditional letter yang dibutuhkan sebagai syarat pengajuan beasiswa.

drg. Tantry mengisahkan bahwa dikarenakan ahli orofacial pain di Indonesia masih sedikit, maka beliau berminat untuk memperdalam ilmu tersebut, sehingga beliau mendaftar ke universitas di Kanada, Belanda dan Australia. Namun, dikarenakan univesitas yang dituju di Australia memiliki ahli orofacial pain yang dicari, maka beliau memantapkan hatinya untuk bersekolah disana. Lain kisahnya dengan drg Amaliya, drg Amaliya mengatakan alasan beliau memilih Belanda adalah karena sebelumnya sudah ada kerjasama antara FKG Unpad dengan universitas tempatnya belajar di Amsterdam dan pembimbingnya selama bersekolah disana sangat responsif. Ketika drg. Zakia masih berada di preklinik, beliau merasa pelajaran tentang imunologi merupakan pelajaran yang rumit, sehingga untuk mewujudkan cita-citanya sejak kecil, yaitu ingin melihat dunia, maka beliau mendaftarkan beasiswa mengenai imunologinya ke universitas di Birmingham, namun dikarenakan standar IELTS yang dibutuhkan sangat tinggi dan beliau hanya mendapatkan conditional letter, maka beliau menetapkan tujuannya ke Glasgow University di Scotland. Walaupun peminatan yang dipilih tidak sama dengan peminatan awalnya di Birmingham, saat beliau mengajukan beasiswa ke Glasgow University, beliau merasa seluruh prosesnya dilancarkan dan beliau langsung mendapat unconditional letter untuk pengajuan beasiswa. Selanjutnya drg Arief menceritakan bahwa sebenarnya alasan beliau melanjutkan ke program doktoral salah satunya karena ada tuntutan juga sebagai dosen, maka ketika terbuka kesempatan untuk melanjutkan studinya dengan beasiswa, drg. Arief tanpa pikir panjang langsung mencobanya. Beliau merasa sangat senang bisa bersekolah di Jepang dan beliau merasa semuanya sudah dilancarkan sejak awal, beliau merasa doa orang tuanya berperan besar dalam perjalanan studinya ini.

Walaupun lembaga pemberi beasiswa dari keempat narasumber ini berbeda, mereka sepakat bahwa untuk memantaskan diri sebagai penerima beasiswa, kita harus banyak membaca, aktif mencari informasi tentang beasiswa yang dituju dan yang terpenting adalah meningkatkan kemampuan dalam berbahasa Inggris. Masing-masing universitas memiliki persyaratan yang berbeda-beda, bahkan ketika drg. Arief bersekolah di Jepang, beliau lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris ketika proses pembelajarannya. Sekarang sudah banyak lembaga tersertifikasi yang menyediakan kursus dan tes untuk persiapan penerimaan beasiswa, maka yang dibutuhkan sekarang adalah kemauan kita untuk belajar lebih sebagai persiapan nantinya. Persiapan ini tidak dapat dilakukan hanya dalam waktu singkat, jadi kita juga harus konsisten dan tidak mudah menyerah ketika belajar. Untuk persyaratan lebih rinci mengenai beasiswa dapat dilihat di web masing-masing lembaganya, yaitu www.lpdp.kemenkeu.go.id, http://beasiswadosen.kemdikbud.go.id/, https://www.australiaawardsindonesia.org/,  dan https://www.studyinholland.nl/

(red: Puspitasari & Dita Amalia)