Mahasiswa FKG Unpad Raih Medali Emas dalam World Invention Creativity Olympic (WICO) di Korea

Mahasiswa FKG Unpad meraih medali emas dalam World Invention Creativity Olympic (WICO), 23-24 Juli 2024 di Seoul, Korea. Faris Hernando Reviansyah dan Azzahra Delvyra merupakan mahasiswa angkatatn 2021 perwakilan dari FKG Unpad yang meraih prestasi tersebut. Keduanya berkolaborasi dengan Prisilia Dita S, Fahmi Nur A, dan Adil Abdul Rauf dari Fakultas MIPA Unpad.

Proyek kolaborasi mahasiswa FKG dan FMIPA yang memperoleh medali emas berjudul “Screen Printed Electrode (SPE) for Oral Cancer Early Diagnosis (SPEED): A Novel Method For Oral Cancer Detection Using Saliva as Biomarker”. Kelima mahasiswa tersebut mendapat arahan dan bimbingan dari Muhammad Yusuf, Ph.D., Dr. Veni Takarini, drg.,M.Kes., dan Dr. Slamet Usman Ismanto, M.Si.

Kegiatan World Invention Creativity Olympics atau WICO sendiri menampilkan lebih dari 25 konferensi dan penemuan internasional yang dipatenkan, juga menghasilkan informasi tentang teknologi masa depan dan ide-ide terbaru. Ribuan mahasiswa dan pengusaha dari negara-negara peserta WICO akan mengembangkan teknologi baru melalui pertukaran internasional dan memperoleh hasil yang baik dari acara tersebut.

Dalam proyek yang digagas mahasiswa FKG dan FMIPA Unpad menjelaskan tentang pengembangan Screen Printed Electrodes (SPE) yang dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kanker rongga mulut dengan hanya menggunakan sampel air liur. Sensor SPE bekerja berdasarkan imunosensor elektrokimia dengan mendeteksi komponen analit yang terkandung dalam air liur. Proyek ini bertujuan untuk mengembangkan alat deteksi dini untuk tanda-tanda klinis dini pada kanker mulut serta mendukung diagnosis kanker mulut menjadi lebih spesifik dan praktis dengan metode non-invasif.

Gagasan alat pendeteksi kanker mulut dengan menggunakan sampel saliva ini berawal dari mahasiswa FKG Unpad, dimana mereka menggabungkan prinsip fisiologis saliva di dalam mulut dengan menghitung kadar saliva yang tersekresi kemudian dilanjut dengan penghitungan kadar analit dalam kandungan salivanya.

“Kami dari FKG berfokus di teori, sedangkan dari MIPA lebih ke cara kerja praktisnya, perhitungan secara kimiawinya,” kata Nando selaku ketua tim.

Nando juga mengatakan alat tersebut masih dalam tahap awal dan perlu dikembangkan, serta dilakukan pengujian. “Kami masih bisa dibilang baru di tahap awal, sehingga alatnya masih sangat sensitif, kemudian kami juga belum melakukan pengujian ke sampel manusia,” tambahnya.

“Untuk kedepannya kami ingin alat ini ditingkatkan tingkat akurasinya sehingga menjadi tidak lebih sensitif, kemudian harapannya juga alat kami dapat digunakan secara masal supaya memudahkan pihak medis dalam mendiagnosis penyakit kanker mulut,” ujarnya.

Scroll to Top