[fkg.unpad.ac.id] Permasalahan kesehatan gigi dan mulut menjadi perhatian saat ini, khususnya di provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian Fit for School (2012-2018) di Jawa Barat : berat badan yang kurang dan stunting berhubungan dengan terlambat tumbuhnya gigi permanen pada anak-anak (Disdik, Dinkes, FKG Unpad, GIZ Jerman). Data Kesehatan SKI pada tahun 2023 menyebutkan prevalensi karies gigi diatas 80 %, Indeks kerusakan gigi tetap (DMF-T) >4,5, dan Index kerusakan gigi sulung (def-t ) >8,1.
Fakta lain menunjukan dampak penyakit gigi dan mulut terhadap kualitas hidup diantaranya 10,5% penduduk berusia 3 tahun terdampak kualitas hidupnya akibat penyakit gigi (angka nasional menyentuh 8,8%). Selain itu sebanyak 89,9% penduduk di atas 3 tahun di Jawa Barat tidak pernah berobat ke tenaga kesehatan.
Hasil penjaringan kesehatan peserta didik tahun ajaran 2023/2024 di Jawa barat menunjukkan peserta didik dengan karies sebanyak 40,39 % siswa SD/MI, 21,4 % SMP/Mts, dan 19,51 % SMA/MA/SMK. Keterangan ini disampaikan oleh drg. Juanita Paticia Fatima, M.KM. dalam Rapat Koordinasi Pemeriksaan Gigi dan Mulut pada Masyarakat dan Peserta Didik melalui Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) di Jabar pada hari jumat, 21 Maret 2025 bertempat di Dinkes Pemprov Jabar, Jalan Pasteur no. 25, Bandung.
Berawal dari permasalahan tersebut Dinkes Pemprov Jabar bersama FKG Unpad serta para stakeholder terkait merancang program Pemeriksaan Gigi dan Mulut pada Masyarakat dan Peserta Didik melalui Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) di Jabar tahun 2025 dalam rangkaian “Safari Pembangunan” dibawah arahan Gubernur Jawa Barat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat dan peserta didik sebagai upaya promotif, preventif yang terintegrasi dalam usaha kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum dan peserta didik kelas 1-2 sekolah dasar/madrasah sebagai prioritas utama untuk intervensi dini.
“Alangkah lebih baiknya program ini dimulai dari PAUD, anak sekolah atau madrasah yang berjumlah 11 juta jiwa untuk mewujudkan manusia unggul,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan drg. Juanita Paticia Fatima, M.KM.
“Kita tidak mungkin mengandalkan 1106 puskesmas yang ada di Jawa Barat, dan kita harus berkolaborasi untuk program penanganan bersama-sama bahwa ini adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk menjadikan anak-anak kita manusia yang unggul,” lanjut beliau.
Pemeriksaan, pencegahan, dan perawatan gigi anak sekolah dilakukan dengan berbasis Model Pentahelix. Model inovatif ini dicetuskan oleh Guru Besar sekaligus Dekan FKG Unpad Prof.Dr. Dudi Aripin, drg.,Sp.KG.,Subsp.KR. Model pentahelix merupakan suatu model inovatif untuk penanganan kesehatan gigi anak sekolah melalui kolaborasi dengan melibatkan 5 elemen utama pembangunan yaitu pemerintah, akademisi, praktisi/industry, masyarakat, dan media.
Kolaborasi pentahelix dalam program ini diantaranya Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Jawa Barat (Dinkes, Diskominfo, Dinas Pendidikan), Kanwil Kemenag Jabar, Pemkab/Pemkot, dan RSKGM dari unsur pemerintah. Dari unsur akademisi yaitu dosen dan mahasiswa dari FKG Unpad, FKG Universitas Maranatha, FKG UNJANI, Poltekkes Jurusan Kesehatan Gigi. Unsur praktisi yang terlibat diantaranya PDGI dan Pengcab se-Jabar, Persatuan Terapis Gigi Mulut Pengwil Jabar dan Pengcab se-Jabar. Selain itu kolaborasi dengan pegiat kesehatan dari unsur masyarakat, unsur industry dari PT. Unilever, PT. Cobra Dental, dan unsur media berkolaborasi dengan Kantor Komunikasi Publik Unpad dan media swasta lainnya.
Menanggapi program ini, respon positif disampaikan oleh Dekan FKG Unpad Prof.Dr. Dudi Aripin, drg.,Sp.KG.,Subsp.KR. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia memiliki target bebas karies pada tahun 2030 yang menjadi program Kemenkes. “Dengan konsep pentahelix kita bisa bergerak bersama dalam melakukan kegiatan yang merujuk pada Indonesia bebas karies,” kata Prof Dudi.
“Ini merupakan kegiatan yang baik sekali karean bila dilihat dari peran unsur pemerintah ini yang utama adalah mengintegrasikan upaya kesehatan gigi masyarakat, dan melibatkan seluruh komponen,” tambah beliau.
“Kita harus bergerak bersama mewujudkan Indonseia bebas karies ini sehingga dengan kita bisa melakukan kegiatan ini mudah-mudahan di jawa barat karies bisa turun,” harapan Prof. Dudi.
Rencana penanganan kesehatan gigi anak sekolah akan dilakukan dalam bentuk upaya promotif, preventif, dan kuratif sederhana. Sedangkan implementasinya melalui upaya jangka pendek, menengah, dan panjang. Program ini diharapkan dalam dilaksanakan pada bulan April 2025.

