[fkg.unpad.ac.id] FKG Unpad, YPPCBL, dan Smile Train berkolaborasi menggelar Kegiatan bertajuk “Lighting Up The World With Smile” dalam rangka memperingati Hari Senyum Sedunia pada hari minggu, 6 Oktober 2024 di Union Square, Cihampelas Walk, Bandung. Hari Senyum Sedunia sendiri diperingati setiap hari jumat pada minggu pertama bulan Oktober yang tahun ini jatuh pada tanggal 4.
Country Manager and Program Director Smile Train Indonesia Deasy Larasaty mengatakan, tujuan dari acara ini adalah bagaimana menyebarkan senyuman baru itu bisa sangat bermanfaat, tidak hanya kepada pasien dan keluarganya. Tapi semoga dengan memberikan senyuman baru bersama Smile Train juga memberikan semangat kepada mereka untuk bisa lebih ceria menghadapi hari-hari depan yang lebih baik. “Bagaimana kita bisa berbahagia bersama-sama dengan senyuman baru yang sudah didapatkan oleh anak-anak yang sebelumnya mengalami bibir sumbing dan langit-langit,” katanya.
“Tidak saja hanya kepada keluarganya maupun lingkungan di sekitarnya dan bisa berefek secara luas, betapa anak-anak yang dulunya menderita sumbing dan langit-langit, setelah mereka mendapatkan operasi, mereka juga bisa lebih kreatif, lebih percaya diri. Diharapkan kepada anak-anak yang lain juga mempunyai semangat yang sama,” tambahnya.
Menurut Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset Dr. Sri Susilawati, drg.,M.Kes., kegiatan yang telah diselenggarakan oleh YPPCBL dan Smile Train selama ini telah menebar banyak kebaikan.
“Sungguh banyak sekali manfaat yang telah dirasakan oleh para penderita juga oleh keluarganya. Dan juga apa yang sudah dilakukan oleh YPPCBL dan Smile Train memberikan banyak keceriaan bagi para penderita yang telah dioperasi juga keluarganya,” kata dokter Susi.
“Tentu kami dari FKG Unpad menyambut baik kegiatan World Smile Day ini dengan harapan dapat meningkatkan aktivitas guna meningkatkan kualitas hidup bagi para penderita celah bibir dan langit-langit,” lanjut beliau.
“Dari FKG Unpad, kami memiliki tri dharma perguruan tinggi meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Tentunya dari kegiatan pendidikan sudah banyak sekali kegiatan dari YPPCBL beserta Smile Train yang menjadi pembelajaran bagi mahasiswa FKG Unpad,” ujar dokter Susi.

Kegiatan World Smile Day 2024 ini diisi dengan talkshow “One Act for Thousand Smile” bersama Farah Asnely Putri, drg.,Sp.BMM(K) selaku narasumber. Talkshow ringan ini menyampaikan seputar celah bibir dan langit-langit yang perlu diketahui oleh masyarakat.
Menurut dokter Farah, Celah Bibir dan Langit-langit dapat disebabkan multifactor, seperti factor turunan dan factor lingkungan. Kita perlu untuk menjaga kehamilan dimulai dari konsumsi multivitamin, bisa dari sebelum kehamilan dengan asam folat, menjaga daya tahan tubuh sampai nanti dinyatakan hamil dan mengonsumsi nutrisi lainnya untuk menjaga kesehatannya untuk mencegah celah bibir dan langit-langit.
“Jangan sampai ketika hamil perlu diberikan obat dan juga ada yang suka jamu-jamuan. Permasalahannya kadang jamu-jamu itu ada yang memang murni atau yang kemasan itu kita ngga tahu,” kata dokter Farah.
Sarannya adalah kontrol rutin baik ke bidan atau dokter obgyn supaya selalu dimonitor berapa berat janinnya serta nutrisi yang perlu dikonsumsi oleh ibu hamil sampai dengan proses kelahirannya.
Beliau juga menjelaskan perawatan pada anak celah bibir dan langit-langit dimulai dari pasca kelahiran hingga dewasa di atas 18 tahun. Dari baru lahir mulai dari proses pemberian makan minum. “Pertama apakah perlu diberi dot khusus. Kemudian pada bayi hindari pemberian asi dengan posisi terlentang, jadi badan atau kepalanya harus lebih terangkat. Kemudian pada beberapa kasus bisa kita pasang alat supaya celahnya tidak bertambah lebar sebelum operasi,” katanya.
“Karena ada persyaratan berat badan sebelum operasi, jika berat badannya tidak memenuhi operasi akan tertunda. Biasanya operasi akan dilakukan mulai 3 bulan, kemudian berlanjut operasi langit-langit di YPPCBL kita melakukannya di usia 18 bulan. Setelah langit-langitnya ditutup, kemudian dilatih otot-ototnya. Itulah perannya terapi wicara. Dan ada peran dari dokter anak juga pada saat terapi wicara dan proses pertumbuhannya, hingga anak mulai belajar berbicara pada umur 2 tahun,” tambah beliau.
“Kemudian pada proses pertumbuhan giginya, perawatannya oleh dokter gigi anak, kemudian menjelang usia sekolah nanti bisa melakukan penutupan celah di gusinya, bisa dilakukan perawatan kawat gigi juga, kemudian pemeriksaan telinga ke dokter THT, lalu pada usia pertumbuhan 17-18 tahun kita akan lihat, pasiennya perlu dilakukan operasi rahang atau ngga. Jadi mulai lahir sampai dewasa itu bertahap tapi yang perlu diingat adalah perawatannya ada,” tutup dokter Farah.

Kegiatan World Smile Day 2024 juga diisi dengan acara hiburan dengan menampilkan pertunjukan bakat seni para penderita celah bibir binaan YPPCBL. Mereka menampilkan bakat menyanyi, menari, fashion show, serta bermain angklung bersama. Selain itu terdapat pemeriksaan gigi gratis bagi para pengunjung.
Salah satu Pembina YPPCBL, Prof.Dr. Eriska Riyanti, drg.,Sp.KGA(K) berharap dengan kegiatan dan kerjasama ini dapat tetap terjaga.
“Kami dari YPPCBL yang selama ini memberikan pelayanan kepada pasien dan keluarga pasien yang membutuhkan pengobatan kemudian pembedahan, dengan memberikan pelayanan pengobatan, pembinaan pasca perawatan pembedahan pada pasien-pasien,” kata beliau.
“Selama ini banyak sekali yang mendukung kegiatan-kegiatan tersebut salah satunya pendukung utama yaitu Smile Train Indonesia dan dari organisasi-organisasi lainnya. Semoga dengan kegiatan dan kerjasama ini akan tetap berlangsung, demi untuk kebaikan dan kemajuan serta untuk mengembalikan kualitas hidup pada anak-anak celah bibir dan langit-langit,” harap Prof. Eriska.
Selama 45 tahun YPPCBL berdiri sudah lebih dari 20.000 kasus yang ditangani. YPPCBL sendiri tidak hanya di Jawa Barat, tetapi menyebar ke seluruh Indonesia seperti Maluku, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, memang base nya di Bandung, Jawa Barat.
Untuk Smile Train sendiri, YPPCBL telah bekerja sama selama 25 tahun, tidak hanya berperan dalam pembiayaan dan pendanaan operasinya, tapi Smile Train juga melakukan training contohnya ke operator-operator, kemudian mengundang pembicara dari luar negeri atau dokter bedah dari luar negeri untuk transfer ilmu kepada dokter-dokter atau operator yang ada di Indonesia. Perannya cukup besar dan saling bekerja sama serta bersinergi dengan YPPCBL.
Dengan kegiatan ini juga diharapkan dapat melakukan edukasi dan pendekatan ke masyarakat luas, sehingga tidak ada stigma dari masyarakat kepada penderita celah bibir dan langit-langit. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini bisa semakin baik penerimaannya. Sehingga anak dengan celah bibir dan langit-langit bisa tetap semangat, bisa mencapai cita-citanya.

